Lapangan tandus tersebut semakin membara. Entah tersulut panas mentari atau semangat para pemain Gaesma. Namun, sayang, tak bertahan lama, tergantikan oleh gumpalan kelabu di angkasa. Rintik-rintik hujanpun sempat mewarnai persaingan mereka (19/12). Lantas bagaimana dengaan Gaesma, akankah tetap berjalan sehat?
Tak terasa Gaesma (Liga Siswa Trisma) Cup telah masuki hari keempat. Dibuka dengan pertandingan antara Tim 1 dengan Tim 4, kemudian dilanjutkan oleh Tim 3 melawan Tim 5 dan pada babak akhir diisi kembali oleh Tim 4 yang kali ini berhadapan dengan Tim 6.
Di babak pertama, tendangan pemain Tim 1 nomor punggung 66, sukses membobol gawang Tim 4 pada pukul 14.55, Tim 1 berhasil unggul satu poin dari Tim 4. Lantas, beberapa kali Tim 4 sempat mengambil alih bola, ciptakan peluang untuk menjejal gawang Tim 1. Namun dengan sigap dapat ditangkis oleh pertahanan solid Tim 1. Hingga di penghujung babak pertama, nama Tim 1 berhasil menunjukan kualitasnya yang lebih mumpuni, dengan skor akhir tunjukkan angka 2-1.
Selanjutnya di babak kedua, giliran Tim 3 dan Tim 5 yang tampil saling menunjukkan taringnya. Tim 5 tampak kewalahan tangani serangan tiga kali berturut-turut dari Tim 3. Ingin mengejar selisih poin yang jauh tertinggal, Tim 5 segera berikan tendangan terbaiknya untuk cetak gol pertamanya. Pertandingan antar Tim 3 dengan Tim 5 kemudian berakhir dengan skor 3-1. Dalam babak ketiga, Tim 4 dan Tim 6 terlihat saling bersaing sengit. Pada pukul 17.15, Tim 6 dengan nomor punggung 14 gesit mengambil peluang saat menyadari kelengahan dari tim lawan. Membuat keadaan yang tadinya seimbang berubah menjadi skor 1-0.
Dengan seiring berjalannya babak tentudiselimuti oleh rasa persaingan yang sangat kuat. Hal ini diungkapkan oleh I Gusti Ngurah Bagus Ari Wibawa yang mengungkapkan bahwa setiap tim bermain secara sportif. “Di sini bertandingnya sudah cukup sportif, walaupun memang ada beberapa pemain yang kecewa dengan hasil skor sampai terbawa emosi,” tutur salah satu panitia Gaesma. Ia juga menambahkan bahwa emosi itu wajar karena remaja itu masih memiliki sifat yang labil.
Di samping itu, tak sedikit pula tim yang lebih mengatas utamakan rasa kebersamaan. Buktinya, walau telah merebut kemenangan pada hari keempat ini, Tim 1 mengungkap bahwa fokus utama timnya dalam Liga Trisma ini bukanlah jadi nomor satu. “Rasa kebersamaan dan sportivitas itu lebih penting, daripada jadi juara satu. Karena buat apa juara kalau nggak bisa main sportif?” tutup Anak Agung Gde Advaita Yudistira Nanda (15) salah satu pemain Tim 1. (Kar, Man, Bin)

