Modernisasi kian merambah tak kenal batas, membuat seisi dunia seolah tenggelam dalam balutan digitalisasi, termasuk di dalamnya ekonomi sebagai penggerak roda kehidupan. "Kenapa mesti pilih yang konvensional kalo ada yang modern?" tukas I Gusti Agung Ayu Desinta Linggarcani (16) retoris.
Pernyataan Desinta, seakan menohok keras realita yang terjadi saat ini. Sebab menurutnya, masyarakat cenderung menyukai segala hal yang berbau instan. Dimana, salah satu bentuk hal instan tersebut adalah kecanggihan teknologi saat ini. Sehingga, aspek krusial seperti ekonomi pun kini turut 'pindah lapak' dan mengalami peralihan dari 'dunia nyata' menuju 'dunia maya'. "Apalagi anak muda kayak aku, mana suka yang ribet-ribet. Selain karena itu, bisa hemat bensin, hemat waktu, hemat tenaga. Intinya praktis," tukas gadis yang menjabat sebagai Wakil Pemimpin Desk Technopreneur Madyapadma Journalistic Park itu.
Kendati demikian, pernyataan Desinta menuai pernyataan kontradiktif dari I Nyoman Aris Suardana (16), "Wah gawat kalau semua anak muda punya pikiran kayak gitu. Bisa-bisa, punah ekonomi konvensional Indonesia," ungkap laki-laki berkacamata tersebut sembari tertawa. "Kalau aku pribadi sih, lebih suka belanja langsung ya. Selain bisa lihat langsung barangnya, juga biar nggak kena tipu. Secara, cyber crime kan sekarang lagi merajalela banget," tuturnya menambahkan.
Menyikapi hal tersebut, Kadek Dwika Wahyudinata (17) justru membeberkan alasan dibalik potret kesenjangan pemikiran antara beberapa remaja terkait digitalisasi ekonomi era globalisasi saat ini. "Masalah remaja millenial, mereka memang tumbuh di tengah merebaknya teknologi. Ya bukan hal yang aneh lagi, kalau kehidupan mereka sudah terlanjur teracuni dan dimanjakan sama teknologi. Mau nggak mau, ya jadi suka yang instan-instan," ucap Pemimpin Umum Madyapadma tersebut. "Tapi kalau misalnya dibiarin punya pemikiran seperti itu semua, yang ada ekonomi Indonesia lesu. Pasar-pasar sama mall konvensional jadi mati gara-gara pada beralih ke online shopping," ujar laki-laki berambut ikal tersebut sembari tersenyum miris.
Populasi aktif remaja dalam media sosial dan digital memang berkontribusi besar terhadap kelangsungan ekonomi secara global. Maka, ketika remaja mulai kehilangan arah dan memberikan dampak yang signifikan, pihak-pihak tertentu juga mesti bergerak aktif. "Kalau sudah begitu, harusnya pihak-pihak lain juga harus bertindak. Orang tua remaja harus mengawasi dan memberikan pengarahan. Pemerintah juga mesti aktif, misalnya memberikan penyuluhan. Semua mesti bergerak, soalnya menyangkut masalah ekonomi digital," tutup laki-laki berkulit sawo matang tersebut. (ka)

