Cerita Panji yang berawal dari cerita di tanah Jawa. Kini cerita panji telah berkembang pesat di beberapa negara di Asia Tenggara. Cerita Panji ini menjadi sumber inspirasi berkesenian di negara-negara tersebut.
Ketika berkembang di beberapa negara, Cerita Panji ini mengalami variasi-variasi. Baik dalam cerita maupun iringan musik pertunjukkannya yang menyesuaikan dengan kondisi lokal. Termasuk di dalamnya alat musik. Walau begitu bila diamati lebih dalam tetap saja ditemukan persamaan-persamaan dibalik perbedaan yang dilihat. “Kita punya terompong, riong dan di Thailand namanya Kongbonglek dan KongBongLai, wujudnya sama cuma beda nama saja,” ujar seniman sekaligus pengamat seni, I Made Bandem, saat Seminar Internasional Festival Panji/Inao 2018, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Jumat (29/6) terkait dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40. Sontak khalayak yang hadir pun terperangah. Sepintas memang terlihat jauh berbeda, namun bila sudah berpegangan pada tonggak sejarah semua akan terungkap. Seminar yang merupakan bagian dari Festival Panji Internasional ini adalah ulasan dan praktek mengenai tarian yang dilandasi oleh Cerita Panji itu sendiri. Dalam seminar yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar pembicara yang terdiri dari I Made Bandem, Wayan Dibya, Bandit Sukapad (Delegasi Thailand), dan Duk Sytha (Delegasi Kamboja).
Pembicara pertama yang membahas tentang pakem gerak legong serta gamelannya dibahas oleh Wayan Dibya. Dibya sendiri menjelaskan, terdapat 16 variasi legong yang diangkat dari sebuah kisah. Kisah itulah yang disebut dengan Cerita Panji. Sambil mencontohkan pakem gerakan legong, Dibya pun mengungkapkan gerak tari Bali memiliki perpindahan yang dinamis dan enerjik. “Cerita Panji tetap menjadi sumber inspirasi terhadap kesenian, saat ini sudah banyak cerita panji yang menjadi dasar-dasar pertunjukan,” tutur Dibya serius. Seusai Dibya, Bandem pun mengulas materi yang dibawakannya. Keinginannya menelisik perbedaan dan kesamaan tarian dan gamelan dari cerita panji di ketiga negara tersebut membuatnya harus mengamati lebih detail. “Kita punya beberapa gerakan yang seperti agem, tanjek yang hampir sama dengan kedua negara tadi (Kamboja dan Thailand-red),” ungkap Bandem.
Membuka cakrawala dari aspek musik, Bandem pun turut melihat persamaan yang cukup pelik. “Untuk komponen gamelan, punya kita (Bali-red) hampir sama dengan Thailand, karena komponennya komplit,” jelas Bandem. Tak hanya itu, gaya penuturan musik yang ditunjukkan Kamboja, Thailand, dan Indonesia menunjukkan satu kesatuan. “Musik adalah ekspresi universal, mengamati ketiga negara ini saat penari menunjukkan ekspresi sedih larasnya menunjukkan kesedihan, dan paduan alat musiknya sama,” ungkap Bandem memecah rasa penasaran. Saat menjelaskan materi platform perbedaan dan persamaan cerita Panji yang dibawakan ketiga negara, Bandem pun turut menarikan tarian-tarian khas Kamboja dan Thailand bersama delegasi dari kedua negara tersebut. Kesamaan-kesamaan ini tak lepas dari adanya sejarah dibalik cerita Panji itu sendiri. Eksistensi Kerajaan Majapahit berdampak hingga seluruh aspek khusunya tradisi dan budaya. Cerita Panji inilah yang salah satu bukti eksisnya Majapahit yang menyatukan Indonesia bahkan Asia Tenggara. (Tim MP/Foto:Widyana Sudibya)


