Beberapa raut wajah penari tak berekspresi, gerakannya berbeda dari pakem tari bali biasanya. Maklum saja, Gambuh Kaga Wana Giri adalah kumpulan seniman yang belajar secara mandiri dengan penuh kesadaran.
Matahari berada tepat diatas kepala satu jam lagi. Masih dalam semaraknya PKB ke-40, Kamis (28/6). Di Kalangan Angsoka, pragina asal Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri, Kabupaten Gianyar tengah menghibur penonton dengan iringan musik yang mengalun dengan lembut. Kali ini mereka mempertontonkan kesenian Gambuh. Tari Gambuh ialah tarian sakral yang merupakan awal mula dari tarian Bali saat ini. I Gusti Ngurah Widiantara, Kelian Seka Gambuh Kaga Wana Giri menjelaskan, “Gambuh yang ditampilkan bercerita tentang membayar yadnya ke Gunung Pengebel. Hal itu karena Prabu Gegelang pernah berucap apaun dan kapanpun Kerajaan Gegelang Makmur, pada saat itu akan melangsungkan yajna.”
Berbeda dengan seni sakral lainnya, seperti joged Pingit dan seni Budrah yang hadir dalam konsep modifikasinya. Tarian Gambuh justru hadir apa adanya. “Pentas dimanapun kami tetap membawa ciri khas Gambuh seperti itu. Karena tarian sakral kan tidak bisa dirubah-rubah. Cuma untuk pementasan durasinya lebih lama. Sedangkan saat odalan durasinya singkat,” tutur Widiantara. Tarian ini mengajarkan untuk bersyukur atas kenikmatan hidup yang kita rasakan. Malangnya, dalam proses persiapan sekaa itu tersandung masalah dana. “Ya karena dananya tidak mencukupi, ada saja pragina menggenakan pakaian yang ia punya. Walau lusuh sedikit tapi masih bisa dipakai,” ungkap Widiantara. Pada akhirnya, menari adalah hal yang dapat dilakukan setiap orang. Hanya saja, ini bukan soal materi, tetapi ini untuk beryajna, Widiantara menambahkan.
Menembangkan ‘Catur Asrama’
Ketika sang pewaktu telah menunjukkan pukul 2 siang, Kalangan Ratna Kanda, Art Center pun kembali diramaikan dengan penampilan tembang girang dari Sanggar Once Srawa. Sanggar yang mewadahi seniman muda ini pun didaulat sebagai Duta Kabupaten Jembrana dalam tembang girang yang kali ini menjadi ajang perlombaan pada PKB (Pesta Kesenian Bali) ke-40. Dengan alunan gamelan khas semar pagulinagnnya, ketujuh penembang dan peneges pun menikmati alunan gamelan dan siap matembang. Mempersembahkan tembang yang bertajuk ‘Catur Asrama’, duta kabupaten Jembrana pun mengisyaratkan kepada masyarakat khususnya anak muda agar dapat menjalani kehidupannya yang selaras dengan 4 tahapan hidup yang sejati menurut agama Hindu yakni Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhasta (masa membina rumah tangga), Wanaprasta (masa mengasingkan diri dari nafsu duniawi), dan Bhiksuka (memperdalam ajaran dharma untuk mencapai surga). (tim MP/Foto:Widnyana Sudibya)


