Sendratari masih memiliki ‘penonton setia’. Setidaknya itu terlihat saat pementasan sendratari dari Mahasiswa Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Selasa malam (26/6) di acara Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 . Ribuan penonton memadati sebagian besar kursi penonton. Hanya saja tidak sesak pementasan bleganjur dua malam berturut-turut sebelumnya. Pementasan sendratari kolosal ini mengangkat cerita tentang ‘Bagus Bang Manik Angkeran’.
Alur cerita ini mengisahkan anak laki-laki bernama Manik Angkeran yang berwatak buruk. Tingkah buruk itu membuatnya melulu dihantam masalah. Menurut penuturan Ketua panitia Sendratari Kolosal Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dewa Ketut Wisnawa, “cerita ini diakhiri dengan kesaktian Manik Angkeran yakni mampu membakar hutan dengan air seninya”. Sekitar 200-an mahasiswa IHDN terlibat dalam pagelaran ini.
“Pementasan ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat soal nilai-nilai pendidikan dalam cerita ini. Seperti jangan berjudi sebab kedepannya akan merugikan diri. Kemudian patuhi lah nasihat orang tua,” ungkap Wisnawa. Dalam proses persiapannya menurut Wisnawa, “karena kami membimbing mahasiswa, jadi saat latihan disuruh datang jam 12, yaa pasti ada ngaret. Dan selebihnya tidak ada kendala yang terlalu berarti”. Melalui pagelaran ini, Wisnawa pula berharap agar kedepanya potensi seniman IHDN semakin berkembang sesuai perubahan zaman.
Wayang ‘Kebo Mundar’
Selain pementasan sendratari di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, kegiatan Pesta Kesenian Bali malam itu juga mementaskan Wayang Kulit di depan Gedung Kriya. Wayang ini mementaskan cerita Kebo Mundar. Tampil sebagai dalang adalah I Putu Agus Melliartawan.
Menurut Melliartawan secara tertulis mengatakan, “Cerita sendratari ini menceritakan tentang kejadian ketika Raja Sukasada mengutus Anglurah Tabanan untuk berperang ke Sasak dan bertempur melawan Ki Kebo Mundar”. Bersama dengan kesatria lainnya, Anglurah Tabanan bertolak dari Teluk Padang ke Pantai Sasak. Sesampainya di Sasak, perang pun berkecamuk dengan sangat hebat, sehingga banyak pasukan yang tewas, lalu Kiyai Telabah yang saat itu memimpin pasukan Bali, menyerah dan melarikan diri menyebrangi lautan meninggalkan pasukannya. Mengetahui Kiyai Telabah telah meninggalkan Sasak, membuat Ki Kebo Mudar sangat senang dan merayakan kemenangan dengan berpestapora bersama para pasukan Sasak, kemudian di pihak Bali mengangkat Anglurah Tabanan sebagai pemimpin pasukan menggantikan Kiyai Telabah. Kemudian peperangan anatara pasukan Bali dan Sasak berlangsung sangat ramai, banyak para pasukan yang tewas bertempur, begitu pula perang anatara Ki Kebo Mudar melawan Anglurah Tabanan berlangsung sengit. Karenya banyaknya tikaman senjata mengenai tubuh Ki Kebo Mudar, akibatnsya Sasak dapat ditaklukan sampai ke ibukota, setelah Ki Kebo Mudar takluk.
Pementasan wayang duta kabupaten Tabanan ini menarik penonton untuk menonton bersama di atas rerumputan. Adapun Sanggar Seni Kempli Beser, Br. Wani, Kerambitan, Tabanan mengiringi pementasan Wayang ini. (Tim MP/Foto:Widnyana Sudibya)


