Penyatuan unsur kebudayaan yang berbeda membuat budaya baru terus lahir. Lahirnya budaya inilah yang memperkaya khazanah budaya negeri.
Suara rebana yang bersahut-sahutan menyapa pagi di kalangan Angsoka, Art Center. Ada penampilan tari dan tabuh oleh Sekaa Burdah,Pegayaman, Kabupaten Buleleng, disana. “Yang kami tampilkan ialah Seni Burdah,” terang Ketut Muhammad Suharto, Ketua Sekaa Burdah Pegayaman. Burdah ialah seni tabuh menggunakan rebana berukuran besar menggunakan rebana besar. Dalam setiap penampilannya Burdah juga disemarakan dengan pertunjukan beladiri yakni Pencak Belebet. “Seni itu merupakan warisan leluhur yang kental dengan akulturasi Islam Pegayaman dan Hindu Bali. Dimana syair-syairnya berbahasa arab semua dari kitab Al-Berzanji. Tapi kidungnya kidung Bali. Sementara pakaiannya menggunakan udeng dan lancingan,” tambahnya menjelaskan.
Bagi Suharto, pementasnnya itu bertujuan membuat dan mengabadikan api perdamaian lewat konsep menyama braya. Bukan hal yang mudah mempersiapkan pertunjukan seni Budrah. Butuh waktu 6 bulan lamanya untuk persiapan. Bukan tanpa alasan, waktu yang terpaut lama itu jelas ada sebabnya. “Kesulitan terletak pada waktu. Apalagi sebagaian besar dari kita adalah petani. Belum lagi cuacanya ga tentu. Jadi agak sulit mengatur waktunya,” papar pria berbaju merah itu. Pada akhirnya, kerja keras selama 6 bulan itu, ditampilkan hari ini, Selasa (26/6) dengan penuh totalitas. Mulai dari sini ia menggantungan harapan agar Seni Budrah dapat ditampilkan ke mancan negara, yang tidak lain untuk membawa perdamaian dunia.
Lomba Bondres Masih Berlanjut
Bondres memang hiburan paling dekat dengan masyarakat Bali. Sejurus lawakan yang disisipi dengan petuah menjadi sarana untuk memberi sesuluh hidup kepada masyarakat. Hari kedua perlombaan bondres Pesta Kesenian Bali ke-40 diisi oleh dua kontingen dari Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan. Penampil pertama datang dari Kabupaten Badung yang diwakili oleh Sanggar Tugek Carangsari, pemimpin sanggar Gusti Putu Artawan mengungkapkan bondres yang digarap memberi pesan kepada khalayak agar senantiasa menjadi pribadi yang jujur dalam mengambil setiap keputusan. “Moral yang ditanamkan berfokus pada kejujuran sebagai pandangan dalam berkehidupan,” ujarnya.
Tabanan yang didaulat sebagai penampil kedua mengusung sebuah garapan bondres yang bertajuk Pariwisata Tanah Lot. Sekaa Bondres Weda Tama yang berkesempatan mewakili gumi lumbung padi ini pun menenkankan pesan pada khalayak yang hadir di Ksirarnawa agar selalu berbuat bajik kepada siapapun. Khususnya pariwisata di Bali agar tetap lestari membutuhkan sinergitas banyak pihak seperti kejujuran pelaku pariwisata agar menimbulkan kenyamanan pada wisatawan yang mengunjungi pulau dewata. Akhir kisah bondres ini pun menyajikan petuah demi petuah agar lebih menghargai benda milik sendiri dan jangan sampai merebut sesuatu yang bukan milik sendiri.
Waspadai Pergaulan Bebas
Selepas jam makan siang, Kalangan Ratna Kanda mulai dipenuhi penonton. Hari ke dua pelaksanaan lomba Tembang Girang dimulai. Dan giliran anak-anak Sanggar Sekara Hati, Duta Kabupaten Gianyar yang unjuk kebolehan di atas panggung merah itu. Seketika penonton dibius oleh tutur lucu para penemang, dan gelak tawa tak dapat dibendung kala itu. “Seks Pranikah”, menjadi cerita yang mereka angkat dalam pertunjukannya. Penampilan itu bercerita bila seks boleh menjadi cara menunjukan kasih sayang kepada lawan jenis. Namun bukan untuk mereka yang belum menikah. Karena pada akhirnya banyak yang akan dirugikan : orang tua, keluarga, hingga diri sendiri. (Tim MP/Foto:Widnyana Sudibya)



