Lomba Bleganjur Anak-anak memasuki hari ke dua, Senin malam (25/6). Lima peserta dari Kabupaten Tabanan, Karangasem, Gianyar, Klungkung, dan Kota Denpasar unjuk kebolehan. Mereka adu pesona anak-anak.
Penampilan mereka yang energik memancing gemuruh tepuk tangan penonton yang menyesaki panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar. Terlebiih sorak-sorai mereka membuat malam begitu semarak. Dibalik penampilan itu, “dana” menjadi masalah pelik yang dirasakan beberapa kabupaten dalam persiapannya. Kabupaten Tabanan, misalnya. “Kendalanya itu dana. Dari pihak kabupaten memang ikut membantu. Namun jumlahnya terbilanglah masih kurang,” tutur Putu Suta Muliartawan (25), pembina Bleganjur Kabupaten Tabanan.
Dirinya tak menyerah. “Untuk mengatasi masalah dana, saya mimimalisir penggunaan properti, biaya latihan, biaya konsumsi, dan biaya sewa pakaian. Selain itu juga ada bantuan dari senior kami,” tambahnya. Dalam keterbatasan, aksi mereka yang mengangkat cahaya kunang-kunang sebagai sumber positif begitu memukau penonton, kala itu. Bukan hanya Kabupaten Tabanan, rupanya Kabupaten Klungkng pula rasakan hal serupa. “Masalah dana itu sudah biasa dalam urusan produksi,” ungkap I Ketut Sumantra, Ketua Sanggar Panji Ulangun Santi, Kabupaten Klungkung. Namun bila ada tekat semua pasti dapat diusahakan, Sumantra menuturkan. Benar saja, penonton dibuat kagum ketika melihat aksi menakjubkan Kabubaten Klungkung yang mengangkat kisah pengrajin gambelan. Persoalan dana memang seringkali menghambat. Namun, Tekat mulia : ingin mencetak generasi penerus dalam berkesenian, ialah alasan mengapa para seniman masih bertahan.
Drama Gong: Nong Nong Kling
Selain pementasan Lomba Baleganjur, Senin malam juga diwarnai pementasan drama Gong dari Saanggar Seni Nong Nong Kling dari Buleleng. Penampilan mereka mampu membuat penonton yang menyesaki kalangan Ayodya tertawa terpingkal-pingkal. Sanggar Seni Nong Nong Kling mengangkat cerita kisah cinta Gede Parwata dan Yuliasih dengan lika-liku cinta mereka di kampus. Berbagai sindiran dan lelucon mampu menahan penonton untuk bertahan hingga akhir. Drama Gong kali ini tidak mengambil setting kisah tradisi melainkan setting cerita Bali dalam kehidupan modern. Sebuah upaya untuk meluaskan materi dan segmen pasar penonton drama Gong. (Tim MP/Foto:Widnyana Sudibya)


