Penari Legong Klasik dari Desa Sading Badung yang tampil di Pesta Kesenian Bali ke-40, Minggu (24/6) mengecoh penonton. Jiwa maskulin penari disembunyikan melalui riasan wajah dan kostum legong yang membuat penonton mulai mencoba menerka-nerka, pria atau wanitakah para penari itu?
Mereka para penari menampilkan tiga Tarian Legong Klasik yang bertajuk Legong Klasik Sudarsana, Legong Bramara, dan Legong Raja Cina. Menurut kordinator Sanggar Ardhanareswari dari desa Sading Badung, Agus Wira Aditama dan Kadek Sanggra Widari, para penari legong adalah pria. Menurut Agus Wira pentas ini dikhususkan untuk pria yang menarikannya. “Kami dari Sanggar Ardhanareswari sudah 10 tahun bergelut dalam tari Legong Klasik dan para penari kami berasal dari daerah yang berbeda-beda,” ujar Agus Wira Aditama.
Cukup dengan waktu 10 hari, Sanggar Ardhanareswari yang berkolaborasi dengan Sekaa Semara Pegulingan Punia Bhakti membuat penonton terkecoh akan kelihaian penari. Widari menuturkan, Legong klasik sudah ada sejak abad ke-16. Kala itu Ni Polok (maestro tari-red) yang pertama kali menarikan tari legong dengan sebuah kisah di dalamnya. “Pada abad ke-18 lah laki laki mulai menarikan tari legong klasik ini,” ungkap Agus Wira yakin. Tak hanya Legong Klasik, Desa Sading pun turut menampilkan Tabuh Pantun Gede yang lahir diera 30-an. Ketut Sudiarsa, selaku kelian Desa Adat Sading mengaku baik legong klasik maupun tabuh Pantun Gede menjadi perhatian khusus agar senantiasa dilestarikan keberadaannya. “Kami senantiasa melangkah bersama dalam satu komitmen untuk menggali warisan leluhur,” ujar Sudiarsa bijak. Melalui proses penggalian itulah, Sudiarsa pun percaya warisan leluhur di Desa Sading dapat diwariskan ke generasi berikutnya agar keberadaannya utuh dan abadi.
Sanggar Saraswati Jogjakarta
Menurut Koordinator kegiatan Sanggar Tari Bali Saraswati Yogjakarta, Ni Kadek Rai Dewi Astini,“Seni adalah yajna. Kemampuan, talenta yang saya miliki itu adalah anugrah dari-Nya.” Tekadnya itu menjadikan tak masalah bila harus bertuyuh-tuyuh mengerjakan sesuatu. Benar saja , ketika pragina bermunculan dan unjuk kebolehan dengan sedemikian indah di Wantilan Taman Budaya-Art Center. Dirinya justru tengah hiruk di belakang panggung. “Hari ini saya menghendle 5 penampilan. Tari Kidung Jagaditha, Tari Tradisi, Tari Ropeng Keras, Tari Legong Kraton (Condong), Tari Kebyar Duduk, Tari Nadi,” papar Dewi Astini.
Tidak hanya pada pagelaran. Melainkan dirinya telah sibuk sedari 3 bulan silam. “Kita melakukan persiapan. Dan karena kita adalah asrama. Kita bergerak secara swadaya. Jadi ada penggalian dana untuk keberangkatan ke Bali,” ungkap Dewi Astini. Usahanya tak berakhir sia-sia. Penampilan mereka suskses menuai decak kagum setiap yang melihat penampilan itu. Bagi I Wayan Dibia, kurator PKB, “Ini satu hal yang menarik karena mereka kan orang-orang Bali yang basenya di Jogja. Ada adaptasi dengan unsur-unsur budaya setempat. Namun mereka masih tetap melakukan satu aktivitas tari dan tabuh yang menurut saya tampilannya cukup bagus,” tutur Dibia. Ia juga beranggapan Secara keseluruhan ditawarkan dalam acara ini cukup bagus. Dari segi kesenian balinya masih kental dalam pementasan itu. Tapi karena mereka beradaptasi dengan budaya setempat ya menimbulkan nuansa-nuansa yang unik.
Memaknai Api
Lomba Melukis pada PKB ke-40, Minggu (24/6) mengangkat tema senada dengan tema PKB, Teja Dhramaning Kauripan. I Made Bendi Yuda selaku Koordinator Lomba Melukis PKB menuturkan tema yang bergaris besar pada Api dan Penciptaan dapat dimaknai berbeda-beda. “Api itu luas, ada dua cara apakah nanti mereka memaknainya secara riil atau secara filosofis,” ujar Bendi Yuda. Peristiwa riil yang dimaksud Bendi yakni tari-tarian maupun ritual (Ngaben, Tari Sang Hyang Jaran, dll). Sedangkan secara filosofis lebih mengarah pada makna lain dari api itu sendiri, contohnya pada gambar Wayang Semara Ratih. “Kedepannya agar setiap kabupaten lebih peka dan menyadari bahwa dari ajang ini seniman yang basic-nya pada seni lukis dapat terus terlahir dan tercipta,”tutup Bendi Yuda. (Tim MP/Foto : Widnyana Sudibya)




