Oleh : Cokorda Istri Niti Laksmi Dewi
Tanggapan terhadap tulisan Jyotira dan Galuh
Istilah “mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya” sejalan dengan apa yang dimaksud Jyotira dalam tulisannya. Hal yang sama diutarakan oleh Bung Karno, seorang bapak proklamator Indonesia yang suka membaca buku. Pandangan-pandangannya seakan memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang terhadap Indonesia dan beberapa diantaranya memang terbukti terjadi. Seperti ramalan? Menurut saya itu bukanlah ramalan, namun sebuah hasil dari pengamatan perilaku manusia dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya.
Dahulu para pahlawan dan seluruh rakyat Indonesia berjuang melawan pemerintah kolonial yang datangnya dari luar. Namun ketika Indonesia sudah merdeka, rakyat Indonesia justru harus berperang melawan sesama bangsanya sendiri. Terdengar ironi namun ya, hal itu terjadi sejak Indonesia baru seumur jagung hingga saat ini. Saya setuju dengan apa yang ditulis Jyotira mengenai konflik-konflik internal yang terjadi di dalam negeri. Gerakan separatisme contohnya. Mengutip dari kbbi.web.id, separatisme adalah paham atau gerakan memisahkan diri atau mendirikan negara sendiri. Gerakan separatis ini pernah terjadi di Indonesia misalnya: Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka, dan Republik Maluku Selatan. Sudah merdeka tetapi tetap ada perang dan bahkan ingin berpisah. Inilah yang dimaksud tantangan untuk mempertahankan lebih sulit daripada memperjuangkan.
Indonesia memiliki beragam suku, agama, dan ras. Bukankah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia? Bukankah keberagaman yang menarik minat orang luar untuk datang dan belajar kebudayaan Indonesia? Tetapi hal itu justru jadi senjata makan tuan. Zaman sekarang perbedaan diantara satu dengan yang lain bisa menjadi konflik. Sedikit saja berbeda, sudah dihujat. Kini masalah-masalah sensitif seperti ini banyak yang bermula dari pengguna jejaring sosial. Mengutip dari revolusimental.go.id 91% pengguna internet di Indonesia berkisar di usia 15-19 tahun dan 88,5% berkisar di usia 21-24 tahun. Ini menandakan pengguna internet khususnya di Indonesia adalah bagian dari kaum millennial. Oleh karena itu kaum millennial Indonesia berpotensi ikut menciptakan sebuah konflik, terutama di media sosial. Ditambah usia mereka sedang labil-labilnya.
Dahulu saat sekolah dasar sering ditanyakan, “Bagaimana cara menghormati jasa pahlawan?” Banyak dari kita akan menjawab “Dengan saling menghormati dan menghargai antar sesama” Namun nyatanya saat ini banyak yang menjatuhkan dan mencaci maki karena perbedaan. Karena hal inilah, pemuda dan pemudi di Indonesia perlu mendapat kesadaran dan menumbuhkan kesadaran itu dalam diri mereka. Demi merawat keindonesiaan. Sama seperti yang Jyotira tuliskan, mulai dengan hal sederhana seperti saling menghormati dalam pergaulan, tidak membedakan suku, agama, dan ras. Hal-hal seperti ini walau terkesan kecil tapi bisa mempererat pertemanan sekaligus mepererat persatuan dan kesatuan.
Kaum muda juga perlu dilatih untuk kritis, tetapi kritis yang beretika. Kritikan yang dilontarkan haruslah punya landasan tidak hanya sekadar melihat kelemahan saja. Karena banyak di masa kini yang asal kritik sampai melontarkan kata-kata kasar dan berujung pada timbulnya konflik.
Kembali lagi berbicara tentang kemerdekaan. Merdeka bukanlah tujuan akhir, namun hanya awal dan sebagai syarat untuk mencapai kebahagian dan kemakmuran dari rakyatnya. Ya, saya juga setuju dengan pendapat Galuh ini. Indonesia sudah merdeka, jika merdeka bisa jadi syarat untuk kemakmuran dan kebahagian rakyat, ya saya setuju lagi dengan Galuh. Rakyat Indonesia belum semua makmur. Dana bansos saja di “tilep” bagaimana rakyat bisa makmur? Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Budaya KKN masih saja meraja lela.
Hal tersebut terkait dengan pembentukan karakter. Untuk membangun sebuah negara yang bersih dan berdemokrasi dibutuhkan karaketr jujur, kritis, dan peduli sesama. Namun semua memiliki tantangan tersendiri. Misalnya dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan Indonesia saat ini belum sepenuhnya berfokus pada pengembangan karakter siswanya dan lebih berfokus pada kemampuan akademik. Padahal peserta didik tidak semuanya mampu di bidang akademik. Mereka semua memiliki kemampuannya masing-masing. Ada yang menonjol di bidang olahraga, seni, dan bahkan bagian softkill-nya. Tetapi pendidikan kita berfokus dan menuntut nilai akademik. Oleh karena itulah mucul sifat-sifat tidak jujur dan berusaha memanipulasi agar bisa mendapat nilai tinggi. Padahal berbagai kemampuan ini yang penting untuk dikembangkan oleh peserta didik yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Tidak ada kemampuan yang sia-sia. Oleh karena itu diperlukan sistem pendidikan dan kurikulum yang sesuai agar kemampuan dari generasi muda bisa berkembang dengan optimal.
Selanjutnya, generasi-generasi muda ini diharapkan bisa menggunakan skill yang dimilikinya, didukung dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih untuk membangun Indonesia yang lebih baik dari sebelumnya
Pendapat Galuh yang paling “ngena” adalah tentang pemikiran egois dari beberapa orang di Indonesia. Beberapa orang tidak bersuara dan tidak mau mengeluarkan pendapatnya karena menurut mereka, aturan atau kebijakan tersebut tidak berpengaruh terhadap mereka. Yang terpenting hidup mereka berjalan dengan baik. Sudah cukup begitu saja. Tetapi di masa depan, mereka baru merasakan apa akibat dari sikap egois mereka di masa lalu. Inilah pentingnya berpikir kritis dan berani berpendapat. Setidaknya, kumpulan-kumpulan suara dari generasi muda ini bisa membantu perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.
Kunci untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik ada pada generasi penerusnya. Saat ini menurut saya yang terpenting adalah fokus untuk mebentuk karakter generasi muda penerus. Karakter keindonesiaan yang tumbuh akan membantu mereka membangun Indonesia yang lebih baik. Bisa dimulai dengan langkah kecil yaitu dengan saling menghormati dan menghargai dengan sesama, belajar berpikir kritis, berani menyuarakan pendapat, dan pedulii dengan sesama.

