Oleh : Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya
Menanggapi tulisan Citra, “Milenial, Nahkoda Kapal Indonesia.”
Bertahun-tahun para pemuda-pemudi Indonesia memerangi para penjajah. Batang bambu dan keris mereka todongkan sebagai senjata untuk menumpas para rakyat asing. Dengan perasaan dendam dan marah karena diinjak-injak, mereka akhirnya bangkit dengan semangat berkobar demi merebut kembali hak-hak mereka sebagai manusia.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” Sebuah kebetulan atau sudah diramalkan, ucapan the founding father kini menjadi kenyataan. Sekarang, zaman telah berganti. Indonesia telah merdeka, bangsa telah mendapatkan Hak Asasi Manusia yang mereka idam-idamkan. Namun musuh kita bukan lagi para inlander yang membutuhkan rempah-rempah, tapi para manusia tamak yang haus akan cuan. Zaman kita sekarang ini adalah zaman Kaliyuga. Zaman dimana kepuasan hatilah yang menjadi tujuan utama dari manusia. Pada zaman ini apabila manusia sudah dapat memenuhi segala sesuatu yang bersifat keduniawian baik itu berupa harta (kekayaan) ataupun tahta (kedudukan) maka puaslah orang tersebut. Mereka menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan mereka. Perihal nasib anak bangsa? Persetan, memang kami urusin.
Problema negeri memang tak ada habisnya. Kini anak muda harus memerangi bangsanya sendiri demi menegakkan keadilan, konflik internal yang berkobar semakin menjadi, membakar setiap jalan yang ia lewati. Tapi tentu saja, anak muda tak akan tinggal diam melihat semua hal itu terus terjadi. Berlandaskan harapan bangsa agar keadilan ditegakkan, mereka turun ke jalanan dan menyampaikan aspirasi terpendam rakyat yang tak mampu di sampaikan oleh para wakil rakyat yang terhormat. seluruh bangsa membutuhkan keadilan, dan bila para anak muda tidak bergerak untuk memulai, siapa lagi?
Banyak orang Indonesia masih menganggap kaum muda sebagai sekumpulan orang yang apatis, apolitis, atau hanya sekadar sebagai suatu kelompok pemilih. Bahkan, di ruang politik formal pun, data menunjukkan bahwa dari total 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2014-2019, hanya sekitar 4% saja (atau 24 orang) yang berusia kurang dari 30 tahun. Tanpa partisipasi yang bermakna dari kaum muda, demokrasi hanya menjadi suatu ajang pemilihan politik semata. Dengan segala janji palsu yang mereka ucapkan, Anak muda hanya dijadikan ladang pengambilan suara. Ketika mereka sudah terpilih, jangankan didengarkan, anak muda justru malah berusaha disingkirkan. Supaya demokrasi bisa inklusif, kaum muda harus punya peran aktif dan berdaya sebagai pemangku kepentingan serta pemecah masalah di komunitas mereka. Sayangnya, kaum muda ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam memberikan dampak yang luas – khususnya dalam ruang politik formal seperti institusi publik dan partai politik
Padahal jika dilihat kembali, persentase anak muda yang peduli akan issue-issue di Indonesia memang melebihi generasi-generasi lainnya. lihat saja, setiap ada demonstrasi di lapangan, mayoritas mahasiswa dan anak muda lah yang turun tangan. Hal ini dikarenakan Generasi Milenial peduli dengan masa depan anak cucu mereka, mereka berharap dengan perjuangan mereka saat ini, masa depan anak bangsa akan menjadi lebih baik. Namun mencapai tujuan tersebut tentulah bukan hal yang mudah.
Saya setuju dengan pendapat Citra, bahwa pengutaraan aspirasi rakyat memang sepatutnya dilakukan secara berkelas dan tidak mengandung sifat anarkisme. Belakangan hari terlihat bahwa demonstrasi yang terjadi dinilai telah banyak merugikan beberapa pihak, karena berujung anarkis. Demonstrasi anarkis yang terjadi seperti menjadi budaya baru. Dimana-dimana kita melihat ujung dari suatu demonstrasi adalah tindakan anarkisme. Padahal tindakan anarkisme dalam berdemonstrasi dinilai sangat jauh dari nilai-nilai jati diri bangsa. Di beberapa wilayah, para pendemo turun ke jalan dan membakar atau merusak fasilitas publik, bahkan juga menyebabkan luka-luka. Padahal sebenarnya, tujuan dari diadakannya demonstrasi adalah demi kepentingan rakyat, sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan. Namun sangat disayangkan, aksi mulia ini ternodai oleh hal-hal yang dinilai sebagai luapan emosi yang membara dan tak terkendali (Ganto.co).
Itu adalah apa yang dikumandangkan oleh media massa. Memang benar, sangat sulit untuk mengkoordinasi ribuan orang agar tidak terjadi bentrokan dan adu fisik. Namun sebenarnya, dari pihak anak muda yang mengikuti demonstrasi dengan tujuan yang murni tidak akan menunjukkan kekuatan fisik dan akan lebih menunjukkan kemampuan yang kritis. Ini bukanlah opini semata, karena kepolisian juga beberapa kali telah menemukan bahwa ada kelompok-kelompok yang sengaja datang untuk melakukan kerusuhan, yang bahkan sebenarnya tidak mengetahui mengapa demonstrasi itu dilakukan. Memang benar kata pepatah, “ketika sesuatu yang besar sedang terjadi, akan selalu ada kelompok-kelompok kecil yang berusaha mengambil keuntungan di dalamnya.” Hal ini juga bukan pertama kalinya terjadi lagi. Ketika masa reformasi tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto, banyak preman-preman dan kelompok kecil memanfaatkan kejadian tersebut dengan cara membakar hingga memperkosa wanita pada kampung chinese di sekitar jakarta. Dikutip dari berita umum koran republika yang berjudul 'Polisi Temukan Perusuh Bayaran Tunggangi Demo UU Ciptaker’ Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Yusri Yunus di Mako Polda Metro Jaya mengatakan, “Dia tidak tahu apa itu UU Cipta Kerja, yang dia tahu ada undangan untuk datang, disiapkan tiket kereta api, disiapkan truk, disiapkan bus, kemudian ada uang makan untuk mereka semua.”
Alangkah baiknya bila kita sebagai koordinator dapat lebih menyaring kembali partisipant yang ikut serta dalam suatu demonstrasi, agar tidak terulang kembali kejadian anarkisme. Mahasiswa dengan pemikiran merdeka tentu mampu menjaga keamanan dan ketertiban dalam menyampaikan aspirasi. Anak muda jangan takut untuk berekspresi. Mengkritisi Negara yang kita naungi adalah suatu kewajiban, dengan tujuan agar pemerintah memperbaiki perbuatan mereka dan mensejahterahkan masyarakat.

