Oleh : Putu Jyotira Dias
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Begitu kutipan pernyataan yang dilontarkan oleh Bapak Proklamator Indonesia. Perkataan beliau pun terbukti. Sejak awal kemerdekaan bahkan hingga sekarang, sudah banyak sekali konflik internal yang mengancam bangsa Indonesia. Penjajah telah diusir, namun kini justru ‘peperangan’ antar masyarakatnya sendirilah yang berisiko memecah belah Indonesia.
Perebutan kekuasaan, penyelewengan, perbedaan, dan yang sudah tak asing lagi yakni konflik suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Alih - alih bersatu untuk maju, masyarakat justru saling melawan dan berusaha menjatuhkan satu sama lain. Kalau sudah begini, dari segi mana bentuk menghargai jasa pahlawan yang telah berjuang mengusir penjajah hingga titik darah penghabisan ?
Indonesia itu luas. Tak hanya wilayahnya, namun juga ‘luas’ di berbagai aspek. Banyak sekali keberagaman dan sumber daya di Indonesia yang sepatutnya dijaga. Mulai dari aspek budaya misalnya. Ke-bhinneka-an Indonesia itu indah. Sangat indah bahkan. Suku, agama, ras, dan berbagai kebudayaan yang berbeda di setiap daerahnya itu menjadi daya tarik Indonesia di mata dunia. Orang luar negeri saja suka dan tertarik. Lantas mengapa orang - orang Indonesia-nya sendiri justru saling menjatuhkan satu sama lain hanya karena ‘berbeda’? Bayangkan jika di Indonesia tidak ada perbedaan sama sekali. Bukankah terasa monoton dan begitu membosankan ? Perbedaan menjadi corak warna - warni elok yang ditorehkan dalam kanvas lukisan Indonesia. Perbedaan sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan. Supaya tak sekadar teori belaka, perlu kesadaran dari dalam diri setiap warga Indonesia. Termasuk bagi para pemuda, sang generasi milenial penerus bangsa. Peran pemuda sendiri memang sangatlah penting dalam suatu bangsa. Penting untuk membangun dan membawa berbagai perubahan. Jika kesadaran akan ‘perbedaan Indonesia itu sesuatu yang patut dilestarikan’ sudah ditanamkan pada mereka, maka dari langkah sederhana di lingkup terkecil pun dapat dilakukan. Sesederhana dalam pergaulan, berteman dengan siapa saja tanpa membedakan SARA. Langkah sekecil itu, mampu membawa perubahan besar bagi Indonesia.
Kemudian meninjau aspek politik. Seperti di masa pandemi ini, berbagai kebijakan telah dibuat oleh pemerintah yang “katanya” untuk membantu masyarakat. Namun, masalah utamanya kebijakan tersebut tidak konsisten satu sama lain. Kemudian perkara dana bantuan sosial Covid - 19 yang alih - alih disalurkan pada masyarakat. Nyatanya justru dipergunakan sewenang - wenang oleh oknum - oknum tidak bertanggung jawab. Budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) nampaknya tak luntur meski pandemi menghadang.
Melihat kondisi pemerintahan Indonesia saat ini, tak salah bila sekarang para pemuda bergerak untuk mengkritisi pemerintah. Asal kritik tersebut berdasar dan sesuai dengan nilai - nilai Pancasila. Mengkritik hal - hal yang dirasa tidak benar bahkan hingga merugikan atau justru memecah belah bangsa Indonesia. Generasi muda dapat mengkritik pemerintah dengan cara berkarya. Zaman semakin modern. Teknologi semakin berkembang. Karya - karya para generasi milenial bahkan semakin unik dan menarik dengan memanfaatkan berbagai teknologi. Baik melalui tulisan berupa puisi, cerita, atau gambar berupa karikatur, kartun, bahkan melalui konten di media sosial, dan karya - karya lainnya. Tentu hal itu dapat dimanfaatkan. Asal kembali seperti yang disebutkan sebelumnya, mengkritiklah sesuai etika yang baik dan benar.
Masih tak jauh - jauh di masa pandemi. Di aspek sosial, para generasi muda dapat turut membantu masyarakat dengan memberikan bantuan sosial berupa sembako misalnya. Dampak positifnya masyarakat tidak perlu bepergian keluar rumah untuk membeli bahan masakan. Pun dapat mengurangi laju penyebaran Covid – 19. Selain itu, para pemuda juga dapat memanfaatkan media sosial dengan melakukan penggalangan dana untuk masyarakat yang membutuhkan. Pengamalan Pancasila pun tak sekadar teori belaka. Sila kemanusiaan tercermin dari tindakan ini.
Selain tiga aspek tersebut, menjaga Indonesia sebenarnya tak hanya dari permasalahan antar masyarakatnya saja. Tapi juga permasalahan lingkungan. Sudah bukan hal baru lagi bahasan mengenai masalah sampah di Indonesia yang masih cukup sulit diatasi. Menurut tulisan Holy Kartika Nurwigati di Kompas.com yang berjudul ‘Indonesia Hasilkan 64 Juta Ton Sampah, Bisakah Kapasitas Pengelolaan Tercapai Tahun 2025 ?’, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2019 merilis bahwa saat ini Indonesia menghasilkan sedikitnya 64 juta ton timbunan sampah setiap tahunnya. Oleh karena itu, di sini pula peran pemuda dibutuhkan. Contoh kecilnya tak jauh dari permasalahan sampah di masa pandemi, yakni menumpuknya sampah medis. Misalnya untuk pemakaian masker sekali pakai, dapat disubstitusikan dengan masker kain yang dapat dicuci dan dipakai berkali-kali. Hal ini lebih efektif, karena dapat mengurangi sampah serta menghemat pengeluaran karena harga masker sekali pakai jauh lebih mahal di masa pandemi dibandingkan sebelumnya. Generasi muda tentunya dapat berkreativitas dengan membuat masker sendiri, atau bahkan dijual ke khalayak sehingga membantu menambah penghasilan. Apalagi di masa pandemi ini banyak yang kehilangan pekerjaan. Selain itu, untuk menanggulangi sampah juga dapat didaur ulang, kemudian dijual. Dengan mendaur ulang sampah tentunya dapat membantu mengatasi pencemaran lingkungan serta dapat pula menghasilkan uang. Jika demikian, tak hanya permasalahan lingkungan saja yang teratasi. Usaha kecil - kecilan yang dibentuk dapat mendorong UMKM. Perekonomian pun turut terbantu.
Sebenarnya masih banyak sekali hal - hal yang dapat dilakukan generasi muda dalam menjaga Indonesia yang tentunya tak dapat disebutkan satu per satu. Oleh karena itu, peran generasi milenial sangat penting dalam menjaga dan merawat Ke-Indonesiaan. Generasi milenial diyakini mampu menciptakan gerakan - gerakan yang membawa perubahan. Dan harapannya, tentu semoga perubahan yang diciptakan mampu menjadi tonggak dalam mempersatukan dan memajukan bangsa Indonesia. Sekaligus mempertahankan apa yang sudah diperjuangkan para pahlawan dan kita nikmati sekarang.

