We have 205 guests and no members online
- Citra Devhi
- Kategori Rubrik
We have 205 guests and no members online
Sektor pariwisata tiap tahunnya selalu menyumbang angka sangat besar. Tak dapat dipungkiri, Indonesia semakin membuka mata untuk menyelamatkan sektor pariwisata dari kondisi terburuknya. Lambat laun, Indonesia semakin tergantung pada sektor ini. Buktinya sudah terlihat dari banyaknya kerjasama pariwisata nasional yang melirik Bali sebagai destinasi utama. Namun, hal inilah yang mengubah Bali menjadi sebuah pulau yang menopang perekonomiannya terhadap sektor pariwisata.
Kontribusi Bali selama ini pun dianggap sebagai alat vital pertumbuhan pariwisata nasional. Terbukti dengan pendapatan sektor pariwisata Bali yang menyumbangkan angka cukup besar terhadap devisa nasional. Menurut tulisan Pramana Wijaya di balipost.com yang berjudul "Kontribusi Devisa 28,9 Persen, Bali Jangan Hanya Dijadikan Obyek Pariwisata" menyebutkan bahwa kontribusi devisa pariwisata Bali terhadap nasional pada 2019 mencapai Rp 75 triliun. Selain itu, Bali juga diungkapkan telah berkontribusi sebesar 28,9 persen dari total devisa nasional yang mencapai Rp 270 triliun pada tahun 2019.
Nama Pulau Bali sebagai Pulau Dewata semakin menggema di mata dunia. Seiring berjalannya waktu, sektor pariwisata Bali membawa perubahan cukup signifikan bagi perekonomian lokal. Pengaruh modernisasi adalah penyebab utama perubahan sentral perekonomian Bali.
Datangnya wisatawan ke Bali membawa pandangan baru bagi masyarakat. Mereka mulai memandang pariwisata sebagai sektor perekonomian yang strategis. Terlebih dengan dijadikannya Bali sebagai destinasi pariwisata nasional. Adanya promosi jangka panjang terhadap pariwisata Bali melahirkan anggapan bahwa sektor ini lebih berkembang. Tentunya dibandingkan dengan sektor pertanian. Akhirnya, tidak sedikit masyarakat mulai berkutat pada sektor pariwisata. Bahkan, perekonomian mereka mulai bergantung pada sektor ini. Kendati demikian, benarkah sektor pariwisata adalah tempat aman Bali untuk berlabuh?
Dampak positif yang diterima Bali dari sektor ini sudah tidak dapat diragukan lagi. Bertahun-tahun lamanya, Bali hanya memfokuskan pandangannya pada sisi positifnya. Namun, jarang sekali Bali melirik ke sisi yang cukup memprihatinkan. Terlebih mengenai pendapatan pariwisata Bali.
Benarkah sumber pendapatan pariwisata Bali dipegang langsung oleh masyarakat lokal? Mungkin saja. Namun, menurut Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana dalam video ABCNews In-depth yang berjudul "The Year Bali Tourism Stopped" mengungkapkan bahwa seluruh pendapatan pariwisata selalu datang, tetapi 70 persen keluar dari Bali. Hal ini disebabkan oleh banyak bisnis di Bali tidak dioperasikan langsung oleh masyarakat lokal.
Tanah diambil alih, masyarakat tak dapat berkutik. Pernyataan tersebut sepertinya cocok menggambarkan kondisi ini. Bisnis berkembang di Bali lebih banyak dioperasikan oleh pemilik asing. Mereka kemudian mempekerjakan masyarakat lokal. Dampaknya lapangan pekerjaan memang terbuka. Namun, banyak masyarakat lokal yang dibiayai sangat rendah. Bak budak di tanah sendiri. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia menjadi permasalahan Bali untuk bertahan di sektor pariwisata. Bukankah seharusnya Bali mendapatkan peluang untuk meningkatkan kualitas SDM-nya, bukan dengan merelakannya dipakai oleh pemilik asing?
Di balik sisi, Bali sampai saat ini tengah berjuang dengan kondisi lingkungannya. Isu lingkungan memang tidak akan pernah habis dibahas. Apalagi saat kondisi sawah di Bali mulai berkurang. Kondisi pasir pantai yang bersih jarang ditemukan. Bahkan, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih.
Sesungguhnya, infrastruktur Bali belum memadai untuk bertahan pada sektor pariwisata. Terlebih, masyarakat Bali selalu mengenyampingkan kondisi lingkungannya. Tak dapat disangkal, bila sampah plastik menjadi pokok permasalahan lingkungan di Bali. Produksi sampah plastik yang melebihi batas. Kemudian, sampah akan terbuang ke laut. Maka, masalah krisis air bersih kembali muncul ke permukaan.
Menurut Deutsche Welle dari tulisannya berjudul "Bali, Surga Wisata yang Kekurangan Air Bersih" yang dimuat di detiknews.com menyebutkan tentang tindakan eksplorasi dan eksploitasi air untuk sektor pariwisata menyebabkan Bali mengalami krisis air bersih pada tahun 2019. Data Yayasan IDEP tahun 2019 turut mendukung pernyataan tersebut. Data IDEP mengungkapkan sebanyak 65 persen air di Bali digunakan untuk kebutuhan pelayanan wisata.
Lagi-lagi, sektor pariwisata menjadi kunci utamanya. Bali sesungguhnya perlu waktu panjang untuk berbenah. Jika Bali tetap menutup mata, bukan tidak mungkin Bali akan tertidur kembali. Apabila Bali tidak bebenah, sektor pariwisata akan tertimbun. Lambat laun, permasalahan lingkungan akan dianggap sebagai kekalahan Bali yang utama.
Jika Bali tetap beranggapan bahwa permasalahan lingkungan tidak memengaruhi sektor pariwisata, itu pertanda Bali sudah tidak mampu berjuang. Demi memperjuangkan sektor pariwisata, kualitas sumber daya manusia memiliki peran penting. Tanpa jati diri sesungguhnya, Bali tidak akan tetap tegak menjadi Bali. Ciri khas kesederhanaan sedari dahulu perlu diterapkan kembali. Jangan mau Bali diforsir terus menerus pada sektor pariwisata. Sekarang waktunya Bali berjuang. Terapkan kesederhanaan serta kejelasan yang akan mengarahkan kepada hasil yang maksimal. (mcy)
Karya: Kadek Novi Ariyanti
Gemericik air dari gagang shower memenuhi ruangan. Gilang tengah asyik membasuh tubuhnya dengan air hangat, sekaligus membersihkan rambutnya yang sudah tiga hari tidak diurus. Sudah enam lagu Barat ia lantunkan sebagai pengiring di sela-sela kegiatannya mengembalikan rambut badainya yang mulai terlihat lepek. Tak lupa, diselingi siulan merdu pada tiap-tiap lirik rumpang yang ia lupa bagaimana lirik aslinya.
Dari dalam kamar mandi, sayup terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Seseorang baru saja mencoba masuk ke dalam kamar Gilang. Tak butuh waktu lama, ia langsung dapat mengenali sang pemilik langkah kaki. Langkah kecil itu sudah pasti milik sang mama, yang masuk bersamaan dengan setumpuk pakaian Gilang yang telah disetrika rapi, dan dengan telaten memasukkan pakaian itu ke dalam lemari.
“Ma, udah balik dari belanja bulanan? Gilang dibeliin apa aja tuh?” ucap Gilang setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh mamanya.
“Nanti kamu cek aja di meja makan,” suara wanita menyertai menjawab pertanyaan yang Gilang ajukan sebelumnya.
“Ma, tolong ambilin Gilang handuk dong kalau gitu. Kebetulan lagi disini kan, Gilang lupa nih belum ambil handuk,” kembali Gilang membuka suara, memecah konsentrasi mamanya yang sedang mengkategorikan baju sekolah dan baju rumah milik putranya.
Tidak butuh waktu lama, suara mengetuk terdengar dari luar pintu kamar mandi. Gilang tentunya tidak akan menampakkan dirinya dan hanya menjulurkan tangan sebagai gantinya. Handuk itu berhasil dipindahtangankan. Akan tetapi, Gilang merasakan tangan mamanya yang terasa lebih dingin dari biasanya. Gilang khawatir mamanya terkena flu atau semacamnya akibat berbelanja sendirian ke luar rumah.
“Ma, mama ga sakit kan? Kenapa tangan mama dingin banget sih? Hati-hati lho nanti sakit,” ujar Gilang nyeroscos tanpa henti, tanda kekhawatirannya kepada ibunda tercinta.
Tidak ada balasan lagi dari Mama Gilang. Mungkin mamanya sudah selesai merapikan baju-baju dan bergegas ke dapur untuk membongkar isi belanjaan yang baru saja dibelinya.
Gilang akhirnya selesai mengeringkan badannya. Menggunakan selembar handuk yang terlilit rapi di pinggang, Gilang berjalan mendekati lemari pakaian. Aneh. Kenapa baju di dalam lemari Gilang tidak ada yang bertambah? Bukannya tadi Mama Gilang sudah memasukkan baju-baju rapi hasil setrika ke dalam lemari? Pertanyaan itu sempat terlintas di pikiran Gilang, tetapi Gilang tidak terlalu menghiraukannya. Ia lanjut memilih baju tidur yang cukup adem agar nyaman saat pergi ke pulau kapuk nanti.
Baju yang diinginkan telah diambil dan dikenakan. Gilang bergegas menuju dapur untuk mengambil belanjaan apa saja yang dibawakan mama untuk dirinya. Yang Gilang baru sadari adalah suara mobil mamanya baru saja terdengar tiba di depan rumah. Belanjaan yang dikiranya ada di atas meja pun tak Gilang temukan. Gilang berlari kecil ke luar rumah, menghampiri mamanya yang baru saja turun dari mobil.
“Loh ma habis dari mana lagi?” tutur Gilang penasaran akan kedatangan mamanya.
“Mama kan udah bilang tadi mau belanja bulanan,” jawab Mama Gilang dengan nada yang santai.
“Terus tadi yang ngerapiin baju di kamar Gilang dan ngasih handuk ke Gilang waktu mandi siapa dong ma?” ungkap Gilang sedikit ketakutan dan khawatir. Raut wajah gilang langsung berubah. Keringat dingin keluar bercucuran membasahi wajahnya. Bulu kuduknya pun berdiri, merinding akan suasana yang seketika berubah drastis.
“Apa sih? Kamu mungkin cuma halusinasi aja kali,” ucap Mama Gilang berusaha menenangkan, sekaligus mengalihkan topik pembicaraan. Mereka akhirnya masuk kembali ke dalam rumah dan membawa belanja bulanan yang telah dibelinya dari toko serba ada yang letaknya berada di pusat kota. Gilang membawa sebagian besar belanjaan, tidak ingin membebani mamanya dengan belanjaan yang berat.
Setelah kejadian janggal yang terjadi pada Gilang perlahan lenyap dari pikirannya, Gilang kembali ke kamar untuk bersiap tidur karena waktu telah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Di tengah heningnya malam, telinganya menangkap bisikan wanita tua yang mengucapkan selamat malam tepat di samping telinga kirinya. Gilang tak membuka mata, justru terlelap seolah bisikan tersebut menjadi sebuah pengantar tidur. Satu hal yang belum ia sadari, ada yang ikut “tidur” dengannya malam itu.