We have 198 guests and no members online
Tuntas membayar segala jerih payahnya, Agraprana Harischandra Suraputra sukses menempati posisi Runner Up II dalam ajang Duta Trisma 2022, tepat pada Senin (21/2).
We have 198 guests and no members online
Tuntas membayar segala jerih payahnya, Agraprana Harischandra Suraputra sukses menempati posisi Runner Up II dalam ajang Duta Trisma 2022, tepat pada Senin (21/2).
Karya: Rico Majesty Daniel Mitra
Keheningan suasana tergambar jelas di suatu ruangan. Arka dengan ketertarikannya mendalami buku itu dengan imajinasinya, sepertinya mulai menghabiskan waktunya untuk hal yang terlukis dalam benaknya. Sudah sekian buku bertema psikologi ia resapi sebagai penikmat alur cerita yang menarik.
Fokus Arka terbagi dua tatkala telinganya menangkap sayup suara pintu kamar yang berusaha dibuka oleh seseorang di balik sana. Sontak Arka menoleh ke arah sumber suara. Nampaknya sang kakak, Dina, menyembul dari balik pintu dengan air wajah masam. Bukan tanpa alasan Dina memasang muka demikian. Pertengkaran hebat kedua orang tua mereka menjadi penyebab utama.
“Kak, capek banget ya tiap hari gini terus. Mau ngasih tau kalau Arka capek, nanti malah saling nyalahin bukannya introspeksi diri,” keluh Arka pada sang kakak.
“Sabar ya Ar, kakak juga gak tau mau ngapain sekarang. Sekarang kita cuma bisa nerima hasilnya aja,” jawab sang kakak, pasrah.
“Iya kak, kita sama sama nguatin diri masing-masing ya. Setidaknya kita udah sama-sama bersyukur sama yang kita punya saat ini,” ujar Arka mencoba membiasakan diri dengan situasi sehari-harinya ini. Arka memeluk kakaknya erat, mencoba meredakan ketakutan yang ia alami saat ini.
Selang beberapa menit, suara teriakan kedua orang tua mereka bak petir di siang bolong. Kini suaranya kian mendekat ke arah pintu kamar Arka. Brakkk! Pintu berhasil dibuka secara brutal oleh papanya. Disusul dengan kata-kata kasar yang tiada henti dilempar oleh orang tua Arka. Arka dan Dina kaget bukan main. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan penuh tanda tanya.
“Arka sama kakak pasti capek banget sama situasi keluarga kita sekarang ya,” ucap papa dengan raut muka iba pada kedua buah hatinya.
Entah dari mana Arka mendapat keberanian, sontak ia menanggapi perkataan papanya dengan tegas. Meluapkan kata-kata yang selama ini ia pendam.
“Mama sama papa, jujur Arka sama kakak capek banget tiap hari kita gini. Di saat Arka lagi ngerasa damai dan bisa menikmati waktu Arka untuk hal yang lebih berguna, malah dihancurin oleh teriakan-teriakan kalian yang memekakkan telinga Arka. Bisa gak sih kalian kasih Arka ketenangan? Sekali aja..” ujar Arka lirih. Pelupuk matanya sudah dipenuhi air yang siap menetes kapan saja.
Jawaban yang Arka harapkan nampaknya tak dapat ia dengar kala itu. Mama papa Arka justru kembali bertempur hebat, menyalahkan satu sama lain dengan kata-kata yang sebaiknya tidak di dengar oleh Arka. Keheningan ruangan Arka tadi sontak sirna, berganti dengan makian hebat yang meretakkan dinding putih sekeliling ruangan miliknya.
Pikiran Arka bertabrakan satu sama lain. Berulang kali ia mencoba untuk menenangkan pikiran. Namun hasilnya nihil, sebab adu argumen masih terus berlanjut di hadapan Arka dan Dina. Pikirannya semakin kacau, tak dapat dikontrol.
“Mama sama papa, kalau misalnya gini terus Arka bunuh diri ya, jujur Arka udah gakuat,” tegas Arka tiba-tiba, dengan pisau lipat dari laci yang sudah siap memutus urat nadinya kapan saja. Arka yang selama ini diam, kini bertingkah di luar nalar.
“Arka jangan gitu, mama sama papa bakal berhenti. Tapi kamu juga jangan lakuin yang aneh-aneh ya,” pinta sang mama di tengah isak tangisnya. Ditaruhnya pisau di meja, menandakan Arka menyetujui permintaan mama.
Kini keadaan berangsur membaik. Mereka meminta maaf dan saling berpelukan untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka alami saat ini. Mereka memang mudah tersulut api emosi, namun mudah juga memaafkan satu sama lain. Keluarga memang begitu, bukan?
Setelah kejadian itu, semua kembali ke kamar mereka masing-masing. Angin segar sedikit berhembus bagi Arka. Akhirnya ia merasa tenang dengan keputusan yang sudah diberikan. Arka membuang nafas kasar, lalu kembali membaca buku kesukaannya.
Imajinasinya kembali bermain dengan buku di genggamannya. Buku yang tak seharusnya ia baca. Semakin ia mendalami buku itu, ia merasa semakin ketakutan dengan kejadian kedepannya yang tidak terduga. Arka memang sudah tenang, namun ada yang masih mengganjal dalam benaknya. Ada ketenangan lain yang ingin ia gapai. Ketenangan yang akan membuatnya lebih merasa damai.
“Kalau aku menghilang dari semua ini, kayaknya aku bakal ngerasa tenang, deh. Di buku ini banyak yang sudah terbukti, dan aku juga gak akan takut kedepannya, karena aku udah ga mikirin hal kayak gitu lagi,” Arka berujar tanpa sadar.
Keesokan harinya, Dina berniat mengajak Arka pergi menghirup udara segar, sebatas hingga taman dekat perumahannya. Sudah ketukan ketiga, namun tak ada jawaban dari seseorang di dalam kamar. Mungkin Arka masih tidur, pikir Dina. Lama menanti di depan pintu, Dina memutuskan untuk melengos masuk ke kamar adiknya tanpa permisi.
Atmosfer ruangan seketika berubah. Pekikan Dina lolos keluar dari bibir mungilnya tatkala mendapati Arka yang tengah terlelap di lantai. Serentak semua panik mendengar teriakan Dina dan buru-buru berkumpul ke sumber suara. Kini, tak hanya Dina, mama dan papa pun turut berteriak histeris.
Di hadapan ketiganya, tubuh Arka terbujur kaku di lantai dalam kondisi berlumuran darah. Barang bukti masih Arka genggam di tangan kanannya, yakni sebuah pisau lipat yang menjadi saksi pertengkaran hebat kemarin. Arka sedang tertidur, namun tidur untuk selamanya. Niat Dina mengajak Arka pergi pun pupus begitu saja, adik sematawayangnya rupanya sudah pergi mendahuluinya.
Namun disaat itu juga, mata Dina terfokus pada sebuah buku yang tergeletak tak jauh dari jasad sang adik. Selembar halamannya ikut terkena cipratan darah. Namun ada yang janggal. Darah segar Arka seolah sengaja menutupi sebuah kalimat bertuliskan “Ketenangan, hanya ditemukan dalam dekapan Tuhan”. Dan tak jauh dari darah tersebut, pesan singkat terselip dari Arka untuk terakhir kalinya. “Selamat tinggal dunia”.
Judul : Mada
Penulis : Gigrey
Penerbit : PT Akad Media Cakrawala
Cetakan : Ke-2
Tahun Terbit : 2021
Bahasa : Bahasa Indonesia
Tebal : 320 Halaman
Genre : Fiksi Fantasi Sejarah
“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”
Siapa yang tak tahu sejarah terucapnya Sumpah Palapa oleh Gadjah Mada? Sang Mahapatih dari kerajaan Majapahit yang terkenal akan perannya dalam mempersatukan Nusantara. Dalam novel Mada ini, pembaca akan dipertemukan kembali dengan sosok Gadjah Mada.
Cerita bermula ketika seorang perempuan bernama Gendhis, seorang jurnalis junior di salah satu perusahaan publikasi di ibu kota dengan kesibukan yang menguras tenaga. Ia dapat bernapas lega ketika atasannya memberi izin berlibur setelah liputan bedah buku skala internasional di Istana Keraton Yogyakarta. Bagai angin segar untuk Gendhis yang sudah lima tahun tidak pulang kampung.
Kala berlibur di Pantai Parangtritis, Gendhis terseret derasnya air pantai layaknya terjebak dimensi waktu. Sangat jauh, hingga masa Kerajaan Majapahit saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Gendhis tentu tak dapat menerima situasi yang dialaminya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Gendhis berpasrah diri dengan hidup sebagai anak dari sepasang suami istri, yaitu Empu Gading dan Nyai Dedhes.
Dengan tetap mencerna apa yang sebenarnya terjadi, Gendhis kemudian dipertemukan dengan Sang Maha Patih Gadjah Mada atau kerap kali dikenal dengan sebutan Mada dalam cerita ini. Hingga Gendhis menyadari, ada kemiripan antara Mada dengan Armada Biru, sastrawan yang tak sengaja ia temui di perpustakaan silam, kala Armada Biru menjadi narasumber bedah buku yang akan diliput oleh Gendhis. Dari pertemuan di perpustakaan tersebut, berujung pada Gendhis yang terikat masa lalu dengan Armada. Kini, tiap kali melihat kemiripan Mada dan Armada, Gendhis selalu berusaha mengelak bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Bagai terikat benang merah tak kasat mata, Gendhis dan Mada terus dipertemukan dalam untaian-untaian takdir yang indah. Hingga Gendhis sendiri pun terjebak dalam takdir indah itu lebih dari enam tahun lamanya. Ketika takdir kembali memainkan aksinya, memaksa Gendhis untuk meninggalkan Mada. Semuanya kacau, terutama Mada yang merasakan kehancuran luar biasa yang tidak dapat diluapkan dengan kata-kata. Namun, bagaimana jika semesta kembali mempertemukan mereka dalam dimensi waktu yang berbeda?
Cerita yang sudah dibaca 3,1 juta orang dalam aplikasi baca digital ini memiliki keunikan tersendiri. Dimana penulis dengan cermat membuat pengembangan sejarah yang ada di Indonesia. Novel ini sukses membuat pembaca ikut membayangkan bagaimana kehidupan di Majapahit pada masanya.
Penulis juga sangat apik dalam setiap menuliskan tokoh Gendhis yang pemberani dan penuh akal. Tak hanya tokoh Gendhis, tokoh-tokoh lainnya pun mampu ia ciptakan sedemikian rapi dengan ciri khasnya masing-masing.
Kendati sayang, penggunaan alur cerita yang maju mundur akan sedikit membuat pembaca kebingungan dan butuh waktu untuk menghubungkan setiap bagian cerita. Selain itu, bahasa yang digunakan merupakan bahasa baku dalam percakapan antara tokohnya. Gaya Bahasa ini akan cukup terkesan kaku bagi pembaca kaum remaja yang lebih terbiasa dengan bahasa gaul. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini cocok dibaca oleh penggemar kisah sejarah maupun tidak. (ary)