Di kaki Gunung Agung, di jantung kawasan paling suci di Bali, seorang ibu menggendong bayinya, menunggu truk tangki datang membawa air. "Tiang numas yeh tiap minggu. Rp200.000," kata Mangku Reni pelan.
Pengakuan Reni adalah kenyataan di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, di belahan Timur pulau Bali. Di Desa Besakih, air tidak datang dari keran. Ia datang dari suara raungan mesin truk tangki yang terengah-engah mendaki lereng Gunung Agung, membawa beban yang seharusnya sudah mengalir sendiri dari dalam tanah.
Mangku Reni sudah hafal ritme itu. Setiap minggu, ia merogoh kocek Rp200.000 untuk satu tangki air, cukup untuk memasak, mandi, dan memberi minum ternak. Saat bercerita, ia menggendong bayinya dengan kain, tangannya menunjuk ke atas, ke arah Embung Besakih yang berdiri di ketinggian, namun airnya tak juga sampai ke rumah-rumah di bawah. “Tiang numbas yeh tiap minggu (saya membeli air setiap minggu) Rp200.000,” kata Mangku Reni pelan. Karena memang begitulah adanya. Ini bukan cerita satu musim kemarau. Ini rutinitas yang berulang seperti doa tanpa jawaban dan memburuk setiap kali Pura Agung Besakih menggelar Karya Agung. Saat ribuan pemedek berdatangan dari seluruh penjuru Bali untuk bersembahyang, permintaan air tangki justru melonjak tajam. Di tempat paling suci di Bali, air bersih justru menjadi kemewahan yang harus dibeli.
Keharusan warga Besakih membeli air, itu sebuah ironi. Terutama bagi orang Bali yang sesungguhnya memuliakan air. Hal itu menjadi ironi, karena dalam ajaran Hindu Bali, air bukan sekadar cairan yang mengalir dari pegunungan ke lembah. Ia hadir dalam tiga tingkatan: toya (air untuk kehidupan sehari-hari), tirta (air suci yang menyucikan jiwa), dan amerta (anugerah para dewa), air kehidupan yang tak pernah habis. Ketiganya bukan pembagian ilmiah. Ketiganya adalah cara pandang bahwa air terlalu agung untuk diperlakukan sembarangan.
"Jadi layer-nya, lapis-lapis penghargaan manusia Bali kepada air itu ada ke semua aspek," kata Sugi Lanus, kurator lontar yang telah menghabiskan bertahun-tahun membaca naskah-naskah kuno Bali. Cara pandang itu tumbuh dari tempat yang konkret. Di kedalaman 177 meter di dasar jurang kawasan Besakih, tersembunyi sebuah gua alami yang gelap, lembab, dan hening. Itulah Pura Goa Raja, bukan pura yang megah dengan halaman luas, melainkan ruang sempit yang menyimpan keagungan. Di dalamnya berdiri pelinggih sebagai stana Ida Bhatara Rambut Sedana. Air terjun mengalir di sekitarnya, dan suara gemericik itu bukan hiasan, ia bagian dari kesucian tempat itu sendiri. Kesucian itu bukan sekadar nama. Ia berpijak pada keyakinan yang berakar jauh ke dalam lapisan kosmologi Bali.
Di sinilah dipercaya berstananya Sang Hyang Naga Tiga: Naga Anantabhoga, Naga Basuki, dan Naga Taksaka. Masing-masing membawa tanggung jawab kosmis. Naga Anantabhoga menjaga ketersediaan pangan yang tak pernah habis. Naga Taksaka memegang kekuatan dan energi kehidupan. Dan Naga Basuki, ia yang melingkar di antara ketiganya dipercaya sebagai simbol air. Bukan air dalam ember atau pipa, melainkan air sebagai aliran kehidupan yang menghubungkan gunung, tanah, dan laut dalam satu sistem yang tak terputus.
Pemujaan kepada Naga Basuki bukan seremoni kosong. Ia permohonan agar air senantiasa mengalir, bersih, dan memberi kehidupan dari hulu Gunung Agung hingga ke sawah-sawah di dataran yang jauh di bawah. Keyakinan itu tidak hanya hidup dalam doa dan mitologi. Ia juga tersimpan rapi dalam lembaran lontar. Sugi Lanus menyebut setidaknya tiga naskah kuno yang berbicara tentang air. Lontar Kusuma Dewa mengajarkan bagaimana tirta dibuat dan dimuliakan. Lontar Dharma Pemaculan menjadi pedoman para petani dalam mengelola air pertanian, mengatur hubungan antara manusia dan sawah yang tak bisa dilepaskan dari upacara Magpag Toya, ritual menjemput air sebelum masuk ke lahan pertanian. Sementara Lontar Sangkul Putih menyimpan kisah kemunculan mata air di Besakih sendiri, mengisahkan Dukuh Segening di Desa Sogra, keturunan Sangkul Putih, pemangku besar Besakih yang diyakini menjaga hubungan manusia dengan sumber air di kawasan itu. “Ong Siwe Sudamam Suahe, Ong Ang Parame Gangge Tirtha Ye Namah Ong, Ong Ong Pawitrani Suahe. Ong Ong Dewe Sampurne Ye Namah Suahe.” Terjemahannya: Ong, seluruh tubuh telah tersucikan, demikianlah sucinya. Ong Ang, permohonan ini memakai tirta, inilah namanya. Ong Ong, jadikanlah air ini sebagai penyucian, itulah sucinya. Ong Ong, sempurnakanlah tubuh ini, itulah namanya suci.
Dalam lontar itu dikisahkan, selama garis keturunan Sangkul Putih tegak menjaga ritualnya, mata air di lereng Gunung Agung tidak akan pernah kering, sebuah perjanjian antara manusia dan semesta yang kini, perlahan, mulai diuji. Cara pandang itu berakar lebih dalam dari sekedar kisah dan lontar, semua tertanam dalam cara leluhur Bali memahami semesta itu sendiri. Dalam konsepsi Panca Maha Bhuta, alam semesta tersusun dari lima elemen: Pertiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa. Apah (elemen cair) bukan hanya air, melainkan segala yang mengalir: embun, getah, darah. Ia menjadi pengikat semesta.
“Kalau satu desa kekurangan air, maka five element-nya tidak lengkap,” kata Sugi Lanus. Bahkan kutukan terberat dalam lontar-lontar kuno pun berbunyi: semoga dikutuk oleh Panca Maha Bhuta (dikuasai oleh angin, dilahap api, ditelan tanah, dihanyutkan air). Bahkan waktu pun diatur untuk menghormati air. Setiap lima hingga sepuluh tahun sekali, masyarakat Bali menggelar Pangusaban Desa (upacara pemujaan kepada Dewa Wisnu) dengan satu permohonan sederhana: agar air terus mengalir. Dan setiap seratus tahun sekali, diselenggarakan Karya Agung Candi Narmada di segara dan Panca Bali Krama di danau untuk membangunkan Sang Hyang Samudra dan Dewi Danu, agar air senantiasa bermanfaat bagi seluruh kehidupan di Bali. Ini bukan takhayul. Ini tata kelola peradaban, cara leluhur memastikan bahwa manusia tidak pernah melupakan dari mana air berasal dan kepada siapa ia harus dijaga.
Perjanjian antara manusia dan semesta itu kini, perlahan, mulai diuji. Bukan oleh bencana alam, melainkan oleh cara kita yang berhenti membacanya dengan benar. I Nengah Muliartha, akademisi yang mendalami tata kelola lingkungan Bali, melihat krisis air di Besakih bukan sebagai anomali, melainkan sebagai konsekuensi logis dari cara manusia modern salah membaca pesan leluhur. "Kita yang terdegradasi dan menganggap itu hanya sebuah ritual. Bukan sebuah strategi konservasi," ucap Muliartha. Wadah kecil berisi air yang diletakkan di sudut-sudut tertentu itu, bagi kebanyakan orang saat ini, sekadar tradisi tanpa makna.
Bagi Muliartha, itu sistem manajemen air paling sederhana yang pernah ada, pengingat bahwa air tidak boleh dibuang sembarangan, bahwa efisiensi adalah bagian dari kesalehan. Hal yang sama berlaku untuk konsep segara-gunung, filosofi tentang satu kesatuan ekosistem dari puncak gunung hingga laut. "Jika gunung kamu jaga, segara kamu juga akan menang. Jangan serahkan sama orang hulu saja. Jangan hanya menikmati di hilirnya," kata Muliartha.
Itulah yang selama ini terjadi. Badung dan Denpasar menikmati air yang merembes turun dari kawasan konservasi di Besakih dan Bedugul, air hujan masuk ke tanah di hulu, meresap melalui lapisan batuan, muncul sebagai mata air di kaki bukit, mengalir ke kota-kota yang tumbuh di bawah. Namun perhatian yang diberikan ke hulu, kata Muliartha, sebatas Pendapatan Asli Daerah (PAD). "Harusnya Badung dan Denpasar berterima kasih kepada yang di hulu. Yang dibutuhkan bukan masalah PAD tetapi bagaimana menjaga kawasan hulu ini menjadi kawasan konservasi." Tekanan itu makin berat. Bali yang secara ekologis hanya mampu menopang 1,5 juta orang kini menanggung hampir 4,5 juta penduduk, ditambah hampir 10 juta wisatawan domestik dan 7 juta wisatawan mancanegara per tahun. Dan investor kini justru lari ke daerah hulu seperti membangun restoran, villa, mengincar pemandangan ke bawah. Setiap bangunan yang berdiri di sana adalah satu bidang tanah yang tidak lagi bisa menjalankan tugasnya sebagai spons alam.
Di sisi lain, ada yang sudah membuktikan bahwa filosofi leluhur itu bukan sekadar kata-kata dan buktinya bisa dilihat, diukur, bahkan dirasakan langsung oleh warga yang dulu berjalan jauh membawa jerigen kosong. Di Banjar Sandan, Desa Bangli, Baturiti, Tabanan, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan warga sekitar melakukan persis apa yang diajarkan konsep segara-gunung: menjaga hulu agar hilir tidak mati. Bukan dengan anggaran besar atau teknologi impor melainkan dengan bambu, tanaman yang sudah dikenal leluhur Bali jauh sebelum ada dinas kehutanan atau program pemerintah mana pun. YBLL, yang berdiri sejak 1993 dan kini menjalankan program 1.000 desa bambu di seluruh Indonesia, mendampingi masyarakat Sandan yang dua dekade lalu menghadapi krisis serupa dengan Besakih: hutan gundul, mata air mati, subak kekeringan. Jawaban yang akhirnya bekerja bukan beton atau pompa, melainkan penanaman bambu massal sejak 2004 serta dikombinasikan dengan awig-awig adat yang menjaga hutan itu dari tangan-tangan yang ingin mengambilnya.
Rizka Fitriani, fasilitator YBLL yang mendampingi pengelolaan hutan Sandan, menjelaskan cara kerja bambu yang sejatinya adalah cara kerja alam itu sendiri. "Satu rumpun bambu ini dapat menyimpan air sekitar 3.500 liter. Di sini ada berapa rumpun, itu dikali lah. Jadi mencadangkan air berliter-liter, berjuta-juta liter. Itu beneran jadi sumber air," kata Rizka. Delapan tahun setelah penanaman, mata air yang dulu mati kini mengalir kembali. Subak tidak lagi kekurangan. Lima puluh kepala keluarga yang dulu menampung air hujan dengan terpal kini menikmati air yang mengalir langsung ke rumah mereka. Inilah yang dimaksud Muliartha ketika ia berkata bahwa leluhur Bali tidak mengajarkan inti ajarannya secara langsung, mereka mengajarkan perilakunya. Menanam bambu di pinggir sumber air bukan kebiasaan estetik. Ia adalah teknologi konservasi yang bekerja diam-diam selama berabad-abad, jauh sebelum ada istilah DAS atau hidrologi.
Tapi bambu saja tidak cukup untuk Besakih dan untuk memahami mengapa, kita perlu turun ke lapisan tanah yang lebih dalam. I Ketut Ariantana, S.T., M.Si. adalah orang yang paham betul soal ini. Ahli sistem penyediaan air itu tidak langsung bicara soal pipa atau pompa ketika ditanya tentang krisis air di Besakih. Ia memulai dari jauh, dari sesuatu yang menurutnya kerap dilupakan orang ketika berbicara soal krisis air. “Air di bumi ini sebenarnya secara umum tidak ada perubahan yang signifikan. Dia tinggal berubah bentuk, dapat di laut, di udara, atau di daratan. Dia hanya berpindah lokasi saja,” kata Ariantana pelan.
Seperti seseorang yang sedang mengajari orang lain membaca peta yang selama ini terlipat salah. Dari sana ia mulai membuka lapisan demi lapisan. Ketersediaan air di suatu wilayah, jelasnya, tidak dapat dibaca hanya dari permukaan. Ia harus dibaca dari dalam, dari lapisan batuan yang menyusun bumi di bawah kaki kita. Di Bali, peta geologi menentukan segalanya. Wilayah dengan lapisan batuan gunung api yang dikombinasikan dengan pasir dan lempung, dan berada di dataran yang relatif landai, cenderung menyimpan air tanah dalam jumlah besar. Itulah mengapa Badung dan Denpasar relatif tidak pernah kekeringan, topografi landai, lapisannya subur, air tanah terkumpul seperti dalam mangkuk raksasa di bawah kota. Lain halnya dengan Besakih. Kawasan suci itu berdiri di ketinggian sekitar 1.000 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut. Di balik tanahnya yang terasa kokoh, yang selama berabad-abad menopang pura-pura besar dan ritual yang tak pernah berhenti, tersimpan lapisan batuan yang menyimpan air. Namun pada kedalaman yang tinggu: 200 hingga 500 meter di bawah permukaan. “Kalau di ketinggian seribuan, dari pengalaman, ngebor minimal 300 meter baru ketemu air,” ujar Ariantana. Bukan tidak ada air. Hanya terlalu dalam untuk dijangkau tanpa teknologi yang memadai dan biaya yang tidak sedikit. Di atas kertas, ada dua sumber air yang seharusnya mampu menanggung kebutuhan kawasan ini: Mata Air Arca dan Mata Air Telaga Waja. Namun kenyataannya jauh dari cukup. Debit Mata Air Arca sangat kecil, tidak sampai 40 liter per detik dan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan wilayah-wilayah lain di bawahnya. Satu sumber air yang kecil, menanggung beban yang terlalu besar.
Banjar Temukus menjadi salah satu titik paling sulit di Desa Besakih. Tanahnya bertipe Regosol, jenis tanah yang dengan mudah menyerap air hujan, namun tidak mampu menahannya. Air yang meresap langsung mengalir mengikuti gravitasi, turun ke hilir, pergi begitu saja meninggalkan hulu dalam kondisi kering. Lebih dari itu, Banjar Temukus masuk dalam zona Non-CAT (bukan wilayah cekungan air tanah) yang berarti secara geologis memang tidak ada kantong penyimpanan air di bawah permukaannya. Tidak ada yang dapat digali. Tidak ada yang dapat dipompa dari bawah. Warga di sana hidup di atas tanah yang secara alamiah tidak dirancang untuk menyimpan air bagi mereka. Maka mereka bergantung pada sistem yang datang dari luar.
Sejak kawasan parkir Pura Besakih mulai beroperasi pada 2022, sebuah reservoir dibangun, sebuah langkah awal untuk bantu warga. Namun tanpa sumber air baku yang memadai, reservoir itu hanya dapat diisi dengan cara beli air yakni mobil tangki. Naik, isi, turun, naik lagi. Berulang setiap hari. Saat odalan berlangsung dan ribuan pemedek memadati kawasan pura, rata-rata 20 tangki dibutuhkan setiap harinya (setara 200 meter kubik air). Dengan tiga tangki di hari biasa dan dua puluh tangki saat odalan, kawasan Pura Besakih menghabiskan tidak kurang dari Rp361 juta per tahun hanya untuk air dari truk. Dalam dua puluh lima tahun, angka itu menjadi Rp9 miliar. Cukup untuk membangun lima titik sumur bor 300 meter yang mengakhiri ketergantungan ini selamanya.
Padahal masalah yang tampak mustahil pun dapat diselesaikan, jika ada kemauan untuk menyelesaikannya. Di belahan dunia yang lain, ada negara-negara yang menghadapi masalah jauh lebih mustahil dan mereka menyelesaikannya. Qatar adalah negara tanpa sungai. Tanpa danau. Tanpa mata air yang berarti. Curah hujannya tidak sampai 10 sentimeter per tahun, lebih kering dari kebanyakan gurun di dunia. Profesor ilmu kelautan Universitas Qatar, Radhouan Ben-Hamadou, pernah menghitung: jika Qatar hanya mengandalkan sumber air alaminya, hanya 14.000 orang yang dapat hidup di sana. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk mengisi seperempat stadion sepak bola. Namun pada 2022, Qatar menjamu satu juta turis dari seluruh dunia, menghidupkan delapan stadion raksasa, dan mempertahankan 144 lapangan rumput hijau di tengah gurun yang membakar di bawah terik Timur Tengah. Setiap lapangan membutuhkan 10.000 liter air destilasi setiap hari di musim dingin dan 50.000 liter di musim panas. Semua air itu tidak datang dari langit. Ia lahir dari proses desalinasi: air laut yang disedot, disaring, dimurnikan, lalu dipompa ke mana-mana termasuk ke bawah akar rumput stadion yang tumbuh di atas pasir.
Kembali ke Besakih. Biaya operasional untuk memompa air hingga ke kawasan Besakih mencapai Rp50.000 per meter kubik. PDAM idealnya menjual air hanya pada harga Rp2.500 per meter kubik. Artinya setiap meter kubik air yang berhasil naik ke Besakih menanggung kerugian Rp47.500. Dikalikan 200 meter kubik per hari saat odalan, kerugian itu membengkak menjadi Rp9,5 juta sehari, hanya untuk satu momen peribadatan di satu kawasan. “Biaya operasional untuk mompa air sampai di kawasan suci Besakih itu butuh biaya besar,” kata Ariantana, singkat namun berat. Maka PDAM berhenti sebatas kewajiban minimum. Dan warga menutup kekurangannya, membeli tangki seharga Rp200.000 hingga Rp250.000, setiap minggunya, setiap tahunnya, tanpa henti, tanpa ada tanda-tanda akan berubah. Ada sebuah ironi yang perlu diucapkan dengan lantang: negara ini sanggup mengalirkan bantuan langsung tunai ke jutaan warga setiap bulan, bahkan ketika anggaran sedang ketat. Namun untuk mengalirkan air bersih ke kawasan suci yang menjadi jantung spiritual Bali, negara memilih berhitung untung dan rugi. Padahal keduanya sama-sama pengeluaran. Bedanya, yang satu membangun martabat, yang lain sekadar menutup lubang.
Ariantana sudah menggambarkannya dengan jelas. Air dari Telaga Waja dipompa secara bertahap, naik melalui enam reservoir berjenjang, mendaki lereng yang selama ini hanya dikenal sebagai jalan truk tangki hingga tiba di Besakih dan mengalir turun ke rumah-rumah warga dengan gravitasi. Sistem yang sederhana secara konsep, namun selama ini terganjal satu hal yang sama sekali tidak teknis yakni uang. Atau lebih tepatnya kemauan untuk mengalokasikannya.
Jika berhitung sederhana saja, DPRD Provinsi Bali memiliki 55 anggota. Di tahun 2026, setiap anggota DPRD Provinsi Bali menerima tunjangan perumahan sebesar Rp37,5 juta per bulan, untuk rumah yang sudah ada. Dikalikan 55 anggota dewan, angka itu menjadi Rp2,06 miliar yang mengalir setiap bulan, hanya dari satu pos tunjangan. Andai separuhnya saja, Rp18,75 juta per orang per bulan, disisihkan untuk kepentingan yang lebih mendesak, dalam lima tahun angka Rp50 miliar itu tiba-tiba bukan lagi angka yang mustahil, angka itu sudah cukup untuk membangun sistem pompanisasi enam tahap dari Telaga Waja ke Besakih. Belum lagi bila kita bicara dana aspirasi yang setiap tahun mengalir ke kantong konstituen masing-masing anggota dewan yang nilainya tidak sedikit. Dana-dana itu tersebar ke mana-mana. Mengapa tidak satu sen pun mengalir ke kawasan yang paling suci di Bali, tempat air justru harus dibeli per tangki?
Seperti pengakuan Mangku Reni dan masyarakat Besakih lainnya. Jadi bila sudah seperti ini jangan salahkan bila Naga Basuki enggan berlabuh di Besakih. Sebab, telah terlalu lama warga Temukus menanti dalam sunyi, merajut harap akan kehadiran sang penjaga. Ia tak menjauh karena kehendaknya sendiri, melainkan karena kita yang belum cukup khusyuk mengetuk pintu hatinya, memintanya pulang untuk menetap di Besakih. Duh! (cpm/dvn)

